Indeks
Daerah  

Jati Diri Jokowi Terpancar Lewat Kemeja Putih dan Topi Putih

Screenshot 20260731 1622502

KR – Kedatangan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi, di Bandara El Tari, Kota Kupang, Jumat (31/7/2026), disambut meriah oleh ribuan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sejak sebelum pesawat mendarat, warga telah memadati kawasan bandara untuk menyaksikan secara langsung sosok yang pernah memimpin Indonesia selama dua periode.

Momen penyambutan berlangsung penuh kehangatan. Berdasarkan pantauan media, Jokowi tampak mengenakan kemeja putih dipadukan dengan topi putih, penampilan yang selama ini telah melekat sebagai ciri khas dirinya di berbagai kesempatan.

Setibanya di Bandara El Tari, Jokowi disambut oleh Wali Kota Kupang, Christian Widodo, yang juga menjabat sebagai Ketua DPW PSI NTT, bersama sejumlah tokoh daerah dan masyarakat yang telah menanti sejak pagi.

Seorang akademisi yang hadir menyaksikan langsung penyambutan tersebut menilai antusiasme masyarakat muncul secara alami dan mencerminkan masih kuatnya hubungan emosional antara Jokowi dengan sebagian masyarakat, khususnya di Nusa Tenggara Timur.

“Antusiasme masyarakat yang hadir hari ini lahir secara alami. Banyak warga datang karena ingin melihat langsung sosok yang selama dua periode memimpin Indonesia. Ini menunjukkan adanya ikatan emosional yang masih terjaga antara Jokowi dan sebagian masyarakat,” ujarnya.

Menurut akademisi tersebut, selama memimpin Indonesia pada periode 2014–2024, Jokowi dikenal dengan gaya kepemimpinan yang sederhana dan dekat dengan rakyat.

Kebiasaannya mengenakan kemeja putih serta melakukan kunjungan langsung ke masyarakat melalui pendekatan blusukan menjadi bagian dari gaya komunikasi yang membangun kedekatan dengan publik.

Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan kemeja putih maupun topi putih tidak dapat serta-merta dimaknai sebagai simbol politik tertentu.

“Dalam kajian komunikasi politik, pakaian memang dapat menjadi identitas visual seorang tokoh. Namun maknanya harus dilihat dalam konteks kegiatan yang sedang berlangsung. Tidak setiap penggunaan tertentu dapat diartikan sebagai gerakan politik,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa simbol-simbol yang melekat pada seorang tokoh publik pada umumnya merupakan bagian dari strategi komunikasi untuk membangun identitas yang mudah dikenali masyarakat.

Simbol tersebut tidak selalu memiliki makna hukum, konstitusional, ataupun pesan politik tertentu.

Kedatangan Jokowi di Kota Kupang pun menjadi perhatian luas.

Ribuan warga tampak antusias mengabadikan momen tersebut melalui telepon genggam mereka, sementara suasana penyambutan berlangsung tertib dan penuh semangat.

Penyambutan ini menjadi gambaran bahwa, meskipun telah mengakhiri masa jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia, kehadiran Jokowi masih menarik perhatian publik.

Bagi banyak warga, momentum tersebut bukan sekadar menyambut seorang mantan kepala negara, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali sosok pemimpin yang selama satu dekade mewarnai perjalanan bangsa melalui pendekatan yang sederhana dan dekat dengan masyarakat. (**)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung

Exit mobile version