Semangat itu, kata Gubernur, sejalan dengan Dasa Cita ke-10 Melki-Johni yakni Kolaborasi Bersama Lintas Sektor. Pemerintah, keluarga, sekolah, dunia usaha, komunitas, dan tokoh agama harus saling mendukung.
Sementara itu, Wali Kota Kupang Christian Widodo mengatakan festival tersebut bukan hanya perayaan tradisi, tetapi juga perayaan identitas dan penggerak ekonomi kerakyatan.
“Bagi saya festival ini bukan hanya perayaan sebuah tradisi, tapi hari ini kita sedang merayakan sebuah identitas, sebuah kebersamaan, sebuah keberagaman. Jauh daripada itu, ini juga menggerakkan ekonomi kerakyatan,” ungkap Christian.
Ia mencatat 110 UMKM terlibat dalam festival tersebut. Keberagaman di Kota Kupang, menurutnya, adalah kekuatan untuk menjadikan Kupang sebagai rumah bersama.
“Rumah sesungguhnya bisa benar-benar menjadi rumah ketika setiap orang yang ada di dalamnya merasa diterima, dihargai, dan diberikan ruang untuk menjadi diri sendiri,” ujarnya.
Christian juga mengapresiasi aksi kemanusiaan PSMTI yang melalui festival ini menggalang Peduli Flores untuk korban gempa.
“Mungkin saat bumi mengguncang saudara-saudari kita di Flores, kita tidak ada bersama mereka. Tapi malam hari ini kita tunjukkan bahwa mereka tidak sendirian. Mungkin wilayah itu memiliki batas, tapi saya percaya kemanusiaan tidak memiliki batas,” tegasnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
