Melki menyebut pertanian NTT menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan air, kondisi geografis dan topografi yang beragam, biaya produksi, akses pasar, fluktuasi harga hingga persoalan regenerasi petani. Untuk itu, menurutnya, pertanian NTT harus semakin adaptif, inovatif dan berbasis teknologi.
“Kita membutuhkan petani muda. Generasi muda harus melihat pertanian bukan sebagai pekerjaan tradisional semata, tetapi sebagai sektor ekonomi masa depan,” katanya.
Melki Laka Lena juga berharap agar HKTI menjadi salah satu kekuatan dalam mendorong regenerasi petani dan melahirkan petani-petani muda NTT yang modern, mandiri dan berdaya saing.
Kepada pengurus DPD HKTI NTT periode 2026–2031 yang baru dilantik, Gubernur juga mengingatkan pentingnya membangun kolaborasi dengan pemerintah, bukan sekadar koordinasi. Ia mengajak HKTI membangun hubungan konstruktif dengan Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota serta memastikan organisasi tersebut benar-benar hadir hingga di tingkat petani.
Menurut Melki, keberhasilan pembangunan pertanian tidak cukup diukur dari luas lahan yang ditanam atau jumlah produksi yang dihasilkan. Ukuran akhirnya adalah meningkatnya pendapatan petani, membaiknya kesejahteraan keluarga petani, terbukanya masa depan yang lebih baik bagi anak-anak petani, serta semakin banyak generasi muda yang melihat pertanian sebagai masa depan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
