Jadi, kesuburan itu datang setelah kesabaran. Setelah hujan. Setelah pelapukan. Setelah tangan manusia kembali mencangkul tanah. Setelah benih ditanam kembali. Setelah seorang petani berani kembali berdiri di kebunnya.
Dan mungkin suatu hari nanti di atas tanah yang sekarang berwarna abu-abu, akan tumbuh hijau. Jagung. Padi. Singkong. Pisang. Kopi. Mete. Dan bunga-bunga kecil yang tidak tahu bahwa tanah tempat mereka tumbuh pernah menyimpan begitu banyak air mata.
Flores Mungkin Terluka, Tetapi Ia Belum Kalah
Suatu pagi nanti, mungkin seorang anak akan berjalan melewati kebun yang dulu tertutup abu.
Ia akan bertanya kepada ayahnya:
“Ayah, benarkah dulu tempat ini pernah hancur?”
Ayahnya mungkin akan diam sebentar. Memandang gunung. Memandang tanah. Kemudian menjawab:
“Iya, Nak. Pernah.”
“Lalu mengapa sekarang hijau?”
Ayah itu mungkin tersenyum. Sebab tidak semua jawaban harus panjang. Ia hanya perlu menunjuk kepada tanah. Kepada pohon. Kepada matahari. Kepada kehidupan yang kembali tumbuh.
Sebab Flores telah belajar dari gempa dan gunung api bahwa kehancuran bukan selalu kalimat terakhir. Kadang-kadang kehancuran hanyalah koma. Kehidupan akan melanjutkan kalimatnya.
Dengan air mata. Dengan doa. Dengan tangan-tangan yang bekerja. Dengan anak-anak yang kembali bersekolah. Dengan ibu-ibu yang kembali memasak. Dengan petani yang kembali mencangkul. Dengan rumah-rumah yang perlahan dibangun kembali. Dan dengan tanah yang suatu hari kembali subur.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
