Bagi Johni, veteran adalah guru. Di saat banyak pejabat menjadikan penghargaan sebagai pajangan, Johni memaknainya sebagai cermin.
“Bintang yang diberikan hari ini jangan hanya menjadi tanda di dada, tetapi hendaknya menjadi cahaya yang menerangi langkah pengabdian kita,” ujarnya.
Ia mengingatkan, LVRI hari ini anggotanya kian sepuh, kian sedikit. Di NTT, banyak dari mereka hidup sederhana di kampung-kampung. Tapi mereka adalah perpustakaan hidup bangsa. Mereka mengajarkan apa artinya jujur, berani, dan setia, bahkan ketika negara belum mampu membalas jasa mereka sepenuhnya.
*Menyelipkan Duka di Tengah Kehormatan*
Yang membuat kisah pagi itu berbeda, Johni tidak hanya berbicara tentang dirinya. Di tengah acara penganugerahan yang seharusnya membahagiakan, ia justru menyelipkan duka.
Ia menyebut gempa yang baru saja mengguncang Pulau Flores. Dan ia juga menyebut tiga nama yang baru saja gugur di langit Papua Pegunungan saat membawa bantuan kemanusiaan: Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Meha, dan Willi Mbuik.
“Dua di antaranya putra-putri NTT. Willi Mbuik sudah dimakamkan di Rote, kampung halamannya. Mereka gugur saat melayani. Itulah jiwa veteran sejati di zaman sekarang,” kata Johni.
Suasana aula yang tadinya tepuk tangan, seketika hening.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
